Surakarta — Di lingkungan madrasah, MTs Negeri 2 Surakarta menyelenggarakan Rapat Arahan dan Penguatan bagi ASN pada Sabtu siang, (2/8/2025) bertempat di aula madrasah. Acara ini merupakan bagian dari upaya pembinaan internal untuk membangun budaya kerja yang disiplin, religius, dan kolaboratif.
Rapat dibuka secara sederhana namun khidmat dengan pembacaan Basmallah bersama. Sebuah pembuka yang menjadi penanda bahwa pekerjaan sebagai Aparatur Sipil Negara di madrasah bukan sekadar tugas administratif, melainkan bagian dari pengabdian yang bernilai ibadah. Suasana kemudian kian teduh saat siraman rohani disampaikan oleh Bapak Mulyata. Dalam tausiyahnya, ia mengajak para guru untuk terus menjaga keikhlasan dalam bekerja dan menguatkan niat mendidik sebagai bentuk tanggung jawab spiritual.

Kepala MTsN 2 Surakarta, Drs. H. Kirno Suwanto, M.Pd., menyampaikan sambutan dengan nada yang tenang dan penuh penghargaan. Ia mengucapkan terima kasih atas kehadiran Pengawas Madrasah, Ibu Sri Hartati, S.Pd., M.Pd., yang telah berkenan hadir untuk memberikan arahan dan penguatan. Dalam kesempatan itu pula, ia memohon arahan dan bimbingan agar seluruh ASN dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya dan mampu membawa madrasah ke arah yang lebih baik. Ia juga menyampaikan permohonan maaf karena rapat dilaksanakan siang hari agar tidak mengganggu proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
Suasana kemudian bergeser menjadi lebih reflektif ketika Ibu Sri Hartati menyampaikan sambutannya. Ia menekankan pentingnya menjaga kedisiplinan dalam berpenampilan, terutama dalam mengenakan atribut ASN sebagai bentuk tanggung jawab terhadap profesi. Ia juga menyampaikan pemaparan mendalam tentang pentingnya deep learning dalam dunia pendidikan. “Guru yang hebat adalah guru yang membimbing, mempraktikkan kepada siswa, dan mampu menerapkannya di masyarakat. Guru itu seperti gula dalam secangkir kopi—tidak terlihat tapi memberi rasa. Ia harus sabar menerima kritikan tanpa kata ‘tapi’. Mendidik harus lahir dari hati yang ikhlas,” ujarnya.
Lebih jauh, ia memperkenalkan konsep mindful, joyful, dan meaningful dalam pembelajaran mendalam. Mindful berarti guru mampu menumbuhkan kesadaran siswa untuk belajar. Joyful, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Dan meaningful, yaitu pembelajaran yang bermakna dan membekas.
Dalam pesan penutupnya, Ibu Sri Hartati menyampaikan kalimat yang menyentuh hati: “Jangan didik anakmu menjadi kaya. Didiklah mereka menjadi bahagia, agar saat dewasa mereka mampu menilai sesuatu dari nilainya, bukan dari harganya.” Ia pun menegaskan bahwa guru yang inspiratif adalah sosok yang tak bisa digantikan oleh teknologi ataupun kecerdasan buatan. Ia juga menitipkan pesan untuk terus menjaga marwah madrasah dan aktif mengikuti MGMP sebagai ruang tumbuh profesionalisme.
Menutup kegiatan, Bapak Kirno Suwanto kembali memimpin sesi Sambung Rasa, yakni forum evaluasi program madrasah dalam satu bulan terakhir. Ia menyinggung pembiasaan pagi, pelaksanaan doa bersama sebelum pelajaran, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pendampingan sholat dhuhur berjamaah, serta keaktifan guru dalam mengikuti seminar. Ia juga mengingatkan agar e-Kinerja segera diselesaikan bagi yang belum dan mengapresiasi pelaksanaan program Greteh 7K yang mulai membudaya di kelas-kelas.
“Jagalah marwah madrasah,” tutupnya dengan nada tegas namun hangat. “Dan ingat, kita bukan superman, tetapi kita adalah supertim.”
Penulis: Naras Suci Riyandini, S.Kom
Tinggalkan Komentar